Presiden PPIA JCU ke -9

Presiden PPIA JCU kesembilan

Anita Restu Puji Raharjeng adalah Presiden yang ke-9 dan wanita yang ke-5 memimpin PPIA JCU. Informasi ini diperoleh berdasarkan arsip PPIA JCU dan komunikasi langsung para pendahulu PPIA JCU. Wanita kelahiran Malang, Jawa Timur dalam kesehariannya adalah staf pengajar di Universitas Islam Negeri Malang. Saat ini Anita melanjutkan studinya di School of Veterinary and Biomedical Science JCU Townsville dengan bidang minat Biomolecular

reza-wahya-2-189x240.jpg

Reza Wahya dalam kepengurusan ini adalah Wakil Presiden sekaligus sebagai Koordinator Perwakilan PPIA JCU Cairns Campus. Mahasiswa Development Practices di School of Earth and Environmental Sciences JCU Cairns ini terkenal aktif dan cukup dikenal di kalangan mahasiswa MDP di Cairns. Pria kelahiran tahun 75 ini bekerja di Badan Lingkungan Hidup Dearah Provinsi Sumatera Selatan.

Sekretaris PPIA JCU

Sekretaris PPIA JCU

Ernest Suryadjaja dipercayakan sebagai Sekretaris dalam kepengurusan PPIA JCU 2011-2012. Dilahirkan di Surabaya 27 tahun lalu, pria ini punya hobby mancing dan kuliner. Sebagai staf pengajar di Fakultas Teknobiologi Universitas Surabaya, Ernest sekarang ini memperdalam minatnya di teknobiolgi secara spesifik di bidang Aquaculture di School of Marine and Tropical JCU Townsville.

Bendahara PPIA JCU

Bendahara PPIA JCU

Arvie Dwi Purnomo menjabat sebagai bendahara PPIA JCU 2011-2012. Ditunjuk untuk menangani masalah keuangan bukanlah hal yang baru bagi Arvie,demikian biasanya dia disapa. Punya pengalaman semasa kuliah sampai dengan bekerja sebagai perencana program dan anggaran di Mahkamah Konstitusi. Dengan beasiswa ADS, Arvie saat ini memperdalam ilmunya di School of Business JCU Townsville dengan minat utama Human Resource Management.

Koordinator Bidang Olahraga & Pariwisata

Koordinator Bidang Olahraga & Pariwisata

Jimmy Frans Wanma sebagai Koordinator Bidang Olahraga dan Pariwisata cukup beralasan, karena aktivitasnya yang cukup tinggi di dunia olahraga semasa menjadi mahasiswa. Saat ini Jimmy adalah staf pengajar di Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua, dan terdaftar sebagai mahasiswa di School of Marine and Tropical Biology JCU Townsville dengan spesialisasi Tropical Ecology.

Koordinator Bidang Komunikasi & Informasi

Koordinator Bidang Komunikasi & Informasi

Freddy Pattiselanno dalam kepengurusan PPIA JCU 2011-2012 adalah Koordinator Bidang Komunikasi dan Informasi. Mahasiswa di School of Marine and Tropical Biology, JCU Cairns ini menekuni minat Tropical Ecology sejak Juni 2010. Ayah 3 putri adalah putra kelahiran Manado 44 tahun silam mengajar di Fakultas Peternakan Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua.

Hari Rabu, 8 Juni 2011, menjadi catatan tersendiri bagi pengurus PPIA JCU yang baru, karena seluruh keluarga besar PPIA JCU Townsville dan Cairns mendapat kunjungan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar RI di Australia Prof. Dr. Aris Junaidi.

Prof. Aris sedang memberikan penjelasan

Prof. Aris sedang memberikan penjelasan

Sekilas tentang Pak Aris, beliau mendapat gelar PhD dari Murdoch University Western Australia tahun 1999 dengan spesialisasi “reproductive endocrinology”. Sebelum menjabat atase pendidikan di KBRI Australia Prof Aris adalah Guru Besar Reproduksi Endokrinologi di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Yogjakarta.

Kunjungan kerja pak Aris ke JCU sebenarnya berkaitan erat dengan bidang keahlian beliau dalam reproduksi hewan guna menjajaki kemungkinan kerjasama antara School of Veterinary and Biomedical Science di JCU dengan universitas di Indonesia. Oleh karena itu dalam kesempatan tersebut beliau melakukan kunjungan dan pertemuan dengan pimpinan dan staf di School of Veterinary and Biomedical Science dan membahasa kurikulum pembelajaran, riset dan kemungkinan kerjasama di waktu mendatang.

Suasana vdieo linked ke Cairns

Suasana video linked ke Cairns

Dalam kesempatan kunjungan tersebut, pak Aris juga melakukan tatap muka dengan mahasiswa Indonesia yang sedang tugas belajar di JCU. Dalam pertemuan tersebut yang di video linked ke Cairns, Prof. Jeff Sayer dan Dr. Agni Boedhihartono selaku pengelola program Management Development Practices (MDP) Cairns Campus juga ikut terlibat dalam pembicaraan serius mengenai rencana kerjasama dengan universitas-universitas di Indonesia untuk masa mendatang.

Tiga hal penting yang perlu menjadi perhatian mahasiswa yang sedang belajar di Australia bahwa Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Nasional memberikan peluang sekolah ke luar negeri dan kolaborasi riset dengan perguruan tinggi di luar negeri, melalui:

1. Adanya program dari Pemerintah Indonesia (DIKTI) melalui beasiswa Luar Negeri, bantuan dana pelaksanaan penelitian bagi para dosen dan peneliti hingga $20.000,- per judul penelitian, bantuan penulisan jurnal internasional, dan bantuan magang di universitas di luar negeri. Program-program tersebut dapat diakses melalui Sandwich Program dan Program Academic Recharging (PAR).

2. Keinginan dari KBRI untuk menjalin hubungan komunikasi yang baik antara Pemerintah Indonesia dengan PPIA utamanya mengenai isu-isu politik, sosial, ekonomi dan budaya antara dua negara.

3. Keinginan dari KBRI untuk membantu program-program yang dilaksanakan oleh PPIA.

Ramah tamah dengan International Office staf dan mahasiswa Indonesia

Ramah tamah dengan International Office staf dan mahasiswa Indonesia

Dalam akhir kunjungan di Townsville, pak Aris dan rombongan menyempatkan diri beramah tamah dengan teman-teman, Alex Slavador (AusAID Liaison Officer) dan Katherine Elliott (International Student Support Officer).

Foto bareng Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Australia

Foto bareng Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Australia

Dilaporkan oleh Anita dari Townsville buat PPIA JCU

Kehidupan bersifat dinamis dan perubahan menjadi komponen utama kehidupan. Perubahan terjadi dimana-mana dan kapan saja. Kita pun mengenal adagium yang menyatakan bahwa segala sesuatu mengalami perubahan kecuali perubahan itu sendiri.

Bahkan, kata-kata perubahan bisa menjadi sihir. “Perubahan yang kita percaya kepadanya,” ujar Obama, si anak Menteng. Terma perubahan dijual si anak Menteng menjadi kekuatan yang membuatnya menduduki pekerjaan nomor wahid di dunia, penguasa negara adidaya.

Dalam teori ekosistem perubahan adalah mekanisme yang sangat natural. Ekosistem dapat berubah bentuk karena proses perubahan alami yang disebut suksesi. Secara ekologis, perubahan bisa bersifat berkesinambungan atau terputus. Ketika suksesi terputus yang terjadi, perubahan frontal adalah hasilnya. Bentuk ekosistem hasil suksesi berbeda jauh dengan komunitas pendahulu. Jika berkesinambungan, maka komunitas pendahulu memberikan ruang untuk berkembangnya komunitas setelah itu. Seperti halnya tumbuhan pionir memberikan ruang dan menciptakan kondisi yang lebih kondusif bagi spesies lanjutan untuk berkembang.

PPIA JCU, sebagai bagian dari sistem kehidupan tak lepas dari cerita suksesi ini. Estafet kepengurusan PPIA dari tahun ke tahun diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tentu saja, kita ingin perubahan yang berkesinambungan, sehingga kemanfaatan PPIA terus dirasakan oleh anggotanya. “Wars come and go, but my soldiers stay eternal,” kata Tupac Shakur, penyanyi rap yang akhirnya tewas menggenaskan itu.

Pada 21 Mei 2011, sehari setelah peringatan Hari Kebangkitan Nasional, anggota PPIA JCU berkumpul dalam acara Annual General Meeting (AGM). Peserta di kampus JCU Townsville dan Cairns dihubungkan dengan fasilitas teleconference. Untunglah, tak seperti kongres PSSI yang kisruh, pelaksanaan acara tersebut berlangsung lancar. Tak seperti kelompok 78 yang ngotot mendukung George Toisutta dan Arifin Panigoro, tak ada ngotot-ngototan dalam AGM ini. Kalau perdebatan itu biasa. Alhasil, banyak hal yang selesai dibicarakan, antara lain mengenai logo dan struktur organisasi. Laporan pertanggung jawaban Presiden PPIA 2010-2011, Sekar Mira, beserta anggota kabinetnya diterima oleh peserta.

Suasana AGM PPIA JCU, 21 mei 2011

Suasana AGM PPIA JCU, 21 Mei 2011

Sebagai sebuah organisasi, PPIA sangat memerlukan personil yang melanjutkan perjuangan kepengurusan. Tak heran, pemilihan ketua baru organisasi selalu menjadi agenda yang ditunggu-tunggu. Sebuah organisasi tak hanya tergantung sistem, namun juga siapa yang menjalankan organisasi. Dalam istilah yang lebih nge-pop, “It’s not only about the song, but also the singer“. Dinamika pemilihan Presiden PPIA JCU yang baru bahkan sudah ramai sebelum pelaksanaan AGM. Politisi PPIA JCU, yang juga menduduki posisi Wakil Presiden ketika itu, Imron Rosyidi, memberikan analisa politiknya:

Berdasarkan pantauan terakhir kemarin sore di lap volley, diam2 (atau sudah mulai terang2an?) saya melihat teman2 sudah mulai kampanye, he….
ANITA: Menunjukkan fotonya bersama Mayor Townsville yang seolah2 mengesankan bahwa dia telah mengantongi “restu” dari sang mayor.
ERNEST: Sejak beberapa minggu yang lalu bahkan sudah memasang fotonya di website JCU (front page www.jcu.edu.au……!!!!)
JIMMY: Kayaknya kemarin memang tidak banyak terlibat dalam pembicaraan2 di gazebo. Tapi, dia langsung ‘action’ dengan membawa beberapa teman internationalnya datang ke lapangan volley (kolega dari Int’l Student yang Europe lagi, bukan sekedar dari Asia spt Cina, India, atau Jepang…!!!)
ARVIE: Saya belum melihat sepak terjangnya, tapi patut dicurigai juga bahwa kemarin dia ga datang ke lap. volley tapi mengutus istrinya (mungkin agar tidak ketinggalan update ‘peta pertarungan’?)
TUTI: Saya juga belum tahu dengan Ibu satu ini. Who knows di balik ketidakmunculannya kemarin di Cranbrook Park dia punya strategi tersendiri?
Teman2 Cairns, adakah kabar2 kandidat Presiden PPIA JCU mendatang?

Analisa yang dipublikasikan di media ber-impact factor tinggi ini, “milist PPIA JCU”, mendapat tanggapan beragam. Tentu ini menunjukkan semangat untuk semakin memajukan PPIA kedepannya.

Akhirnya ada dua calon Presiden PPIA JCU 2011-2012: Ernest Suryadjaja dan Anita Restu Puji Raharjeng. Setelah diambil pemungutan melalui voting langsung dan televoting, Anita Restu Puji Raharjeng terpilih menjadi Presiden PPIA JCU 2011-2012. Selamat diucapkan kepada Anita Raharjeng! Semoga PPIA JCU menjadi lebih baik lagi. Kepada seluruh panita yang telah menyiapkan acara ini dengan baik, diucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. “Crescente luce, light ever increasing”.

Suasana penghitungan suara calon Presiden PPIA JCU 2011-2012

Suasana penghitungan suara calon Presiden PPIA JCU 2011-2012

Serah terima dari Presiden PPIA JCU 2010-2011 ke Presiden terpilih PPIA 2011-2012

Serah terima dari Presiden PPIA JCU 2010-2011 ke Presiden terpilih PPIA 2011-2012

(Dilaporkan oleh Yansen)

Persatuan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) menjadi berita utama di media-media nasional, cetak maupun elektronik, beberapa minggu terakhir.  Organisasi pelajar ini mengkritisi kunjungan kerja DPR RI Komisi 8 ke Australia. Surat pernyataan resmi yang ditujukan ke Komisi 8, ditambah dengan bumbu-bumbu kejadian ketika temu muka anggota DPR dengan masyarakat Indonesia di Australia, menjadi bahan bahasan menarik media-media di Indonesia.

Mungkin ini adalah salah satu dari banyak peristiwa yang telah mewarnai sepanjang keberadaan organisasi pelajar Indonesia di Australia ini. Siapa sangka, organisasi PPIA telah berumur 30 tahun. Pada 8 Maret 1981, organisasi ini berdiri. Seiring perjalanan waktu, PPIA telah mempunyai cabang di seluruh negara bagian di Australia dan pengurus-pengurus ranting di hampir semua universitas di Australia.

Sebagai bagian dari organisasi PPIA, PPIA James Cook University (JCU) ikut merayakan hari jadi organisasi ini. Organisasi yang menjadi tempat berkumpul para pelajar Indonesia di Australia diharapkan akan lebih memberikan manfaat bagi anggota secara khusus dan masyarakat secara umum.

Dengan terbatasnya jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di JCU, PPIA ranting tetap berusaha semaksimal mungkin untuk tetap berjalan. Dengan keinginan memberitahukan eksistensi PPIA kepada khlayak kampus, PPIA JCU menggelar majalah dinding di Koiki Mabo Library JCU. Tak sekedar informasi tentang PPIA, stand ini juga menampilkan buku-buku tentang Indonesia, dari cerita batik sampai politik, dari pedalaman Sumatra sampai pusat negara.

Display info PPIA, buku-buku tentang Indonesia dan seni kerajianan (foto: Anita Raharjeng)

"Display info PPIA, buku-buku tentang Indonesia dan seni kerajinan (foto: Anita Raharjeng)"

Tak hanya sampai disini, untuk lebih mengakrabkan lagi PPIA dengan komunitas Indonesia, diadakan gathering masyarakat Indonesia di Townsville. Pada tanggal 11 April, pelajar dan masyarakat Indonesia di Townsville berkumpul di Rossiter Park, Aitkenvale. Kumpul-kumpul ini diisi dengan ramah tamah, aneka perlombaan dan tentu saja makan-makan! Semua bergembira. Anda pun dapat menikmati keceriaan tersebut dari foto-foto di bawah.

Ketua panitia (Anita Raharjeng) memberikan kata sambutan didampingi Presiden PPIA JCU (Sekar Mira) (Foto: Ayu Dwi Lesmana)

"Ketua panitia (Anita Raharjeng) memberikan kata sambutan didampingi Presiden PPIA JCU (Sekar Mira) (Foto: Ayu Dwi Lesmana)"

Tumpeng ikut memeriahkan acara (Foto: Ayu Dwi Lesmana)

"Tumpeng ikut memeriahkan acara (Foto: Ayu Dwi Lesmana)"

Aneka lomba untuk anak-anak (Foto: Ayu Dwi Lesmana)

"Aneka lomba untuk anak-anak (Foto: Ayu Dwi Lesmana)"

Para ibu tak mau ketinggalan (Foto: Ayu Dwi Lesmana)

"Para ibu tak mau ketinggalan (Foto: Ayu Dwi Lesmana)"

Bapak-bapak pun pasang aksi (Foto: Ayu Dwi Lesmana)

"Bapak-bapak pun pasang aksi (Foto: Ayu Dwi Lesmana)"

Suasana gathering (Foto: Ayu Dwi Lesmana)

"Suasana gathering (Foto: Ayu Dwi Lesmana)"

Foto bersama di akhir acara (Foto: Ayu Dwi Lesmana)

"Foto bersama di akhir acara (Foto: Ayu Dwi Lesmana)"

Terimakasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan acara ini. Semoga PPIA terus menunjukkan kiprahnya untuk kebaikan anggota dan juga masyarakat. “Crescente luce, light ever increasing”.

(Dilaporkan oleh Yansen. Terima kasih untuk Anita Raharjeng dan Ayu Dwi lesmana untuk foto-fotonya)

Setelah sempat tertunda, hajatan besar PPIA JCU akhirnya terlaksana dengan sukses. Sebagai bagian memperingati Hari Kemerdekaan RI, PPIA JCU mengadakan “Indonesia Open Day” pada 12 Oktober 2010. Acara ini bertujuan untuk lebih mengenalkan sejarah, budaya dan makanan Indonesia. Panitia akhirnya meramu acara dalam bentuk pemutaran film, pameran souvernir (sekaligus dijual) dan jamuan makanan Indonesia.

Presiden PPIA JCU, Sekar Mira, memberikan kata sambutan (Foto: Sekar Mira)

Presiden PPIA JCU, Sekar Mira, memberikan kata sambutan

Film yang ditampilkan berjudul “Merah Putih”, sebuah film yang berlatar belakang perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Film ini memberikan sketsa bangsa Indonesia yang memiliki beragam etnis, struktur sosial dan agama. Indonesia menyatukan Amir, Tomas, Dayan, Marius dan kawan-kawannya yang berbeda-beda latar belakang demi satu tujuan: membesarkan Bumi Pertiwi.

(Sebagian peserta yang sedang menonton prmutaran film. Foto: Sekar Mira)

Sebagian peserta yang sedang menonton pemutaran film

Seusai pemutaran film, para peserta mencicipi masakan Indonesia. Makanan dari Indonesia bagian timur sampai ke barat dihidangkan. Bubur pisang, kue wajik , kue lapis pandan, nagosari sampai es cendol disajikan. Peserta tampak antusias mencicipi (sampai kenyang tentu…) makanan yang ada.

(Peserta sedang menikmati makanan. Foto: Sekar Mira)

Peserta sedang menikmati makanan

(Sebagian peserta dan panitia berfoto bersama di akhir acara. Foto: Sekar Mira)

Sebagian peserta dan panitia berfoto bersama di akhir acara

Selamat kepada pengurus PPIA JCU dan panitia yang telah menyelenggarakan acara dengan sukses. Semoga acara seperti ini membuat Indonesia dikenal secara baik oleh dunia luar. Seperti yang dikatakan (Alm) Teuku Jacob, ahli antrofologi ragawi UGM, bahwa kita yang hidup di negara lain mau tak mau menjadi duta bangsa. Semoga kita semua menjadi duta yang baik. (Dilaporkan oleh Yansen).

Catatan redaksi: Berikut ini catatan I Made Sukresna berkaitan dengan suka duka menyewa kamar kost di Australia. Selamat membaca!

———————-

“Saudara (Mister) Sukresna, dengan ini kami putuskan bahwa tuntutan Saudara tidak dapat kami kabulkan”..Begitulah kata Pak Hakim yang terhormat..Murunglah aku seketika, menambah derita diare yang kualami sejak pagi hari..Hari itu, 4 Oktober 2010, resmi sudah AUD 651-ku (sekitar 5,2 juta rupiah dengan kurs 1 AUD=8000 rupiah), melayang sirna selamanya ke langit….Sediiiih…Hiks..

Kata orang, “balada” berarti kisah sedih. Aku mengamini dalam kenyataanku ini. Apa pasal? Inilah cerita pengalamanku versiku sendiri (i made sukresna ver. 3.0). Menurutku sih benar:

PEMBUKA:

Tanggal 14 November 2009 aku menginjak bumi Australia. Negeri asing yang baru pertama kali kukunjungi. Aku tinggal di sebuah keluarga kakek-nenek warga Australia yang demikian baiknya hingga aku betah 2 bulan disana. Akhirnya kondisi keuangan mengharuskanku berpikir realistis mencari kost yang lebih murah. AUD 220 seminggu adalah harga yang relatif sangat mahal bagi kantong pelajar. Mengingat waktu pencarian kost baru yang cukup pendek dan tidak terlalu banyak tempat kost sekitar kampus yang diiklankan waktu itu, akhirnya ketika kulihat kost (sharehouse) berongkos AUD 150 per minggu, segera saja aku memutuskan untuk pindah kesitu.

Read the rest of this entry »

“Ah ujian proposal kandidasi S3 di James Cook University (JCU) sih udah pasti lulus, kan JCU butuh uang. Masak tidak diluluskan. Jadi, lulus ujian bukan sesuatu yang luar biasa. Ah fakultas bisnis JCU kan tidak terkenal, ora mbejaji (istilah Jawa dari seorang kawan), nanti menyesal lho, mending sekolah di dalam negeri ada yang lebih bermutu. Buat apa buang uang cuma buat cari gengsi studi di sekolah kelas asal-asalan di luar negeri?”

Serangkaian anggapan beberapa orang itu MUNGKIN benar, tapi bagiku tetaplah sesuatu yang luar biasa bagi anak “orang awam” bisa bersekolah S3 gratis di luar negeri yang berbahasa bukan Bahasa Indonesia. Pas takdir membawaku ke JCU (ada ceritanya juga ni) aku sudah sangat bersyukur. Apalagi aku mengalami serangkaian pengalaman menarik sejak tinggal di Australia, sampai akhirnya aku dinyatakan lulus ujian proposal dengan predikat OUTSTANDING alias sangat memuaskan. Ini kategori tertinggi dari Good, Very Good, Excellent, dan akhirnya Outstanding. Yes!! Tak terkira senangku.

Bli I Made Sukresna sedang mempresentasikan proposal penelitian (Foto: Kadek Kresna)

Bli I Made Sukresna sedang mempresentasikan proposal penelitian (Foto: Kadek Kresna)

Read the rest of this entry »

Ada awal, ada akhir. Demikian juga yang terjadi dengan para pelajar Indonesia yang menempuh pendidikannya di James Cook University ini. Setelah menghabiskan waktu-waktu untuk belajar, menghadiri kuliah, bersemedi di perpustakaan atau menghabiskan waktu di laboratorium, kini saatnya kembali ke negeri tercinta. Tapi, tentu saja tak hanya cerita susah, ada banyak suasana gembira yang dirasakan selama bersekolah. Masing-masing pasti punya cerita berbeda.

Karena itu, sebagai bagian dari pelayanan yang mereka lakukan, pada 30 Juni lalu AusAID Liaison Officer JCU menyelenggarakan Completion Gathering bagi mahasiswa AusAID yang akan segera pulang ke negara masing-masing. Acara ini diadakan karena mahasiswa internasional biasanya tak menghadiri acara wisuda resmi universitas. Kesempatan ini dijadikan ajang untuk mengapresiasi keberhasilan para pelajar yang telah menyelesaikan studinya.

(Suasana completion gathering yang outdoor. Foto: Yansen)

(Suasana completion gathering yang outdoor. Foto: Yansen)

Semester ini, secara keseluruhan ada dua belas orang mahasiswa Indonesia meyelesaikan studinya. Dua orang mahasiswa menyelesaikan program PhD (Dian dan Putu Liza) dan selebihnya menempuh program master (Adit, Arthur, Conni, Diana, Esti, Mahfud, Rofiq, Sarah, Tiwi dan Yusup). Karena itu, keluarga besar PPIA JCU mengucapkan selamat kepada rekan-rekan sekalian!

(Sebagian wisudawan yang berfoto dengan pelajar dari negara lain. Foto: Yusup)

(Sebagian wisudawan yang berfoto dengan pelajar dari negara lain. Foto: Yusup)

Sekembalinya ke tanah air para rekan pelajar ini akan menjadi “Guru” (dengan G besar). Lho, kok “Guru”? Menurut sejarahnya, di Bologna dan Paris pada abad ke-12, guru-guru dan murid-murid membuat asosiasi yang disebut ‘gilda’. Di Bologna mereka menamakan diri ‘universitas’, yang berarti ‘suatu keseluruhan’. Pada abad ketigabelas, Bologna menjadi pusat kajian hukum sipil dan hukum gereja. Gurunya disebut ‘doktor’ (dari kata doctorem yang artinya guru).  Paris menjadi pusat kajian kiat. Gurunya disebut ‘magister’ (yang juga berarti guru). Sebutan doktor dan magister dianugerahkan kepada mahasiswa yang telah menyelesaikan kajiannya.

Sedangkan dalam Bahasa Sangskrit, “Guru” berarti “gu”, kegelapan, dan “ru”, cahaya. Guru adalah orang yang berjalan dari “kegelapan ketidakpedulian kepada cahaya ilmu pengetahuan”. Karena itu, harapan besar diletakkan di pundak kita semua untuk menjadi bagian solusi dan mengabdi bagi bangsa Indonesia untuk menuju cahaya kemajuan. Itulah esensi menjadi “Guru”.

Perguruan tingi merupakan sasana adiluhung pembangunan manusia. Ia adalah kawah candra dimuka penyiapan manusia-manusia handal. Karena itu, perguruan tinggi tidak hanya dituntut untuk mengabdi pada kepentingan ilmu pengetahuan dan teknologi (devotee of science and technology) tetapi juga harus memperjuangkan cita-cita luhur manusia dan kemanusiaan (devotee of ideas and values). Maka tak heran jika Bangsa Indonesia berharap banyak dari sarjana yang dilahirkan oleh lembaga perguruan tinggi, dalam dan luar negeri.

Sekali lagi kita ucapkan selamat kepada rekan-rekan kita yang telah menyelesaikan satu tugasnya, untuk kemudian bertemu tugas yang lain. Semoga ilmu yang diperoleh benar-benar bermanfaat. “Crescente luce, light ever increasing”.

(Sebagian para wisudawan berfoto dengan para pelajar dari negara lain. Foto: Yusup)

(Sebagian para wisudawan berfoto dengan para pelajar dari negara lain. Foto: Yusup)

“Pemimpin datang dan pergi, tapi pengabdian hidup selamanya”, demikian kata bijak berujar. Setelah satu tahun menjalankan tugasnya, pengurus PPIA JCU 2009-2010 sampai di penghujung bakti. Presiden Rofiq beserta jajarannya melepaskan jabatan untuk dilanjutkan oleh kepengurusan berikutnya. Karenanya, pada 29 Mei 2010 dilaksanakan rapat sakral tahunan, dengan sebutan keren AGM (Annual General Meeting). Seperti biasa, ruangan di Chaplaincy menjadi tempat pertemuan andalan. Namun sebenarnya ini bukan hanya karena ijin dan akses yang mudah, penggunaan Gedung Chaplaincy sebenarnya bermakna lebih mendalam: kebersamaan dalam perbedaan. Tak hanya peserta Townsville yang datang, delegasi Cairns menyempatkan diri menempuh jalan darat untuk menghadiri acara tahunan ini. Bravo G’Penk dan Bli Kadek!

Presiden Rofiq dan Wapres Adit (Foto: Kadek Kresna)

Presiden Rofiq dan Wapres Adit (Foto: Kadek Kresna)

Tentu, sama seperti ritual penggantian kepala negara lainnya, rapat tahunan ini memuat agenda pertanggungjawaban, pemilihan ketua baru dan pelimpahan tongkat tanggung jawab. Presiden Rofiq membeberkan prestasi-prestasi yang telah dibentangkan selama satu tahun, mulai dari peringatan hari kemerdekaan, sampai keberhasilan melaksanakan gathering masyarakat Indonesia di Townsville dan sekitarnya. Kekurangan tentu ada, tapi sangat minimal jika dibandingkan dengan tetesan keringat pengabdian yang telah dikucurkan bersama jajarannya. Ujungnya, tak seperti Bung Karno yang pidato Nawaksara-nya ditolak oleh MPRS 1966 atau Presiden Habibie yang dijatuhkan didepan sidang MPR 1999, pidato Presiden Rofiq disambut applaus, tak jauh berbeda dengan standing ovation yang diterima Sri Mulyani di depan forum di UI baru-baru lalu.

Para peserta AGM IFoto: Kadek Kresna)

Para peserta AGM (Foto: Kadek Kresna)

Tak berhenti di situ, agenda kemudian memasuki agenda pemilihan presiden baru. Rapat pun berlangsung seru, alot dan dinamis. Masing-masing faksi berargumen, tentu untuk kebaikan bersama. Akhirnya melalui diskusi panjang, presiden PPIA JCU periode 2010-2011 terpilih. Ternyata semangat Hari Kartini 21 April masih terasa efeknya sampai akhir Mei, Sdri. Sekar Mira terpilih sebagai Presiden baru PPIA JCU.

Terima kasih dan takzim diucapkan untuk pengurus periode 2009-2010. Bagi yang akan segera pulang ke Indonesia for good semoga dapat melanjutkan baktinya di bumi pertiwi. Selamat bekerja untuk pengurus periode 2010-2011. “Crescente Luce, light ever increasing”.

Serah terima jabatan dari Presiden lama ke Presiden terpilih disaksikan pimpinan sidang (Foto: Kadek Kresna)

Serah terima jabatan dari Presiden (Rofiq) lama ke Presiden terpilih (Sekar Mira) disaksikan pimpinan sidang (Foto: Kadek Kresna)

 

Bersibuk ria di kampus tak menjadikan sulit menemukan celah ‘a bit fun’ bila musim buah mangga di kampus tiba.  Pohon mangga di belakang school-ku (tepatnya ruangan kerjaku hehe..)  termasuk yg rajin berbuah dan menjadi langganan beberapa staf-nya.. termasuk students-nya sih, yaitu saya hehe.. Para staf yg Australian ini menanti mangga ini masak.  Sayang perolehan rekan-rekan staf ini akan berkurang mengingat sudah didahului sang burung ‘pemangsa’ buah mangga dan penggemar buah mentah seperti saya hehe.. karena manisan mangga bagi saya adalah bagian cerita rindu my hometown ‘Bogor’: panas-panas pulang kantor tinggal beli manisan mangga di Abang Gerobak (street vendor).. segaaaarrr..  Berhubung di perantauan, jadi harus membuat sendiri.

manisan mangga

manisan mangga

Cara membuat: iris mangga tipis-tipis, masukkan ke wadah, cuci, taburi garam secukupnya dan aduk, tutup, masukkan kulkas.  Setelah diinapkan semalaman akan berair, buang air garamnya, cuci.  Ulangi lagi hingga 3×24 jam, namun jika tidak sabar seperti saya untuk segera menyantap manisan malah  hanya 3 x rendam-cuci dalam 2 x 24 jam saja hehe..  Setelah itu baru hanya ditaburi gula pasir saja dan simpan di kulkas.  Agar lebih segar disantap di suasana cuaca panas-panas ala Townsville, buat air gula terpisah dan masukkan di kulkas agar dingin dan siap di tambahkan ke manisan ketika akan disajikan.  Makin lama di simpan di kulkas makin lemas dan meresap, makin nikmat (alias makin lemas makin menggemaskan hehe..).  Tambahan dalam sajian bisa juga ditambahkan ulekan cabe atau beli jadi fresh chilli botolan (Galiko) di Woolworth.  Dirujak (ulek gula merah, asam jawa, terasi–Cirebon, cabe rawit/cabe merah keriting/kecil; Galiko bisa menggantikan cabe segar dan asam jawa) malah lebih seruuu dan.. hot.  Mangga segar memang bisa langsung di-rujak namun bagi yg tidak tahan masam nya bisa diproses dulu seperti membuat manisan ini agar rasa masamnya cukup berkurang.  Selamat ber-hot ria..

Tentang website ini

logo-ppia-jcu-3

Ini adalah sebuah alamat website yang digunakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia - James Cook University. Website ini digunakan sebagai wadah informasi bagi anggota PPIA - JCU maupun khayalak umum. Silahkan hubungi kami melalui:
(Please contact us):
jcu.isa_ppia@yahoo.com


Web Admin